Susahnya mencari penjahit baju yang hasilnya enak dipakai merupakan salah satu masalah utama yang dihadapai konsumen yang menjahitkan  pakaiannya.

Kondisi ini menggugah Kasmadenis, yang akrab di panggil Ibu Ema, untuk membuka sekolah/kursus privat mode untuk menularkan keahliannya, maka dibukalah kursus menjahit IKKIS pada tahun 1992 yang menfokuskan usahanya untuk pendidikan dan pengembangan Pola dan cara jahit ala Butik.

Awalnya, Ibu Ema yang menikah tahun 1973, berbekal Ijazah sebagai Sarjana IKIP terpaksa harus menghadapi kenyataan hanya menjadi Ibu rumah tangga saja. Ia disarankan oleh suami untuk tidak bekerja diluar rumah karena anak-anak masih kecil-kecil sehingga keinginan untuk berkarir harus ditunda dahulu, apalagi Ia harus mengikuti suami pindah-pindah tugas sebagai pegawai BRI.

Permintaan dari suaminya tersebut tidak membuat surut keinginan ibu muda ini untuk beraktifitas. Ia pun mengikuti kursus menjahit, dan usai kursus ia membuat pakaian tennis untuk koleksi pribadi karena kebetulan ia hobi berolahraga tenis. Dari sinilah asal muasal usaha jahit menjahit digelutinya, teman-temannya bermain tennis banyak yang minta dijahitkan pakaian. Mulailah hari-harinya disibukkan dengan urusan menerima jahitan disela mengurus anak-anak. Ibu Ema juga memperdalam ilmunya di kursus menjahit dan pola BUNKA–Jepang di Jakarta. Dari situlah diperolehnya sinergi pola yang dikombinasikan dengan pengalaman menerima jahitan sehingga bisa menghasilkan pola jahitan yang enak dipakai untuk segala model dan usia.

Karena lebih suka menularkan ilmunya sebagai seorang pengajar, dan untuk mewujudkan cita-cita masa mudanya menjadi pendidik,  Ibu Ema lebih memilih mengembangkan usaha kursus yang kini kita kenal dengan nama IKKIS Sekolah Privat Mode dan Tehnik Menjahit halus yang berlokasi di Pancoran – Jakarta Selatan ini.